Nah Touring motor Depok - Bali - Lombok ini adalah Touring motor terjauh yang pernah saya tempuh seumur hidup sampai tulisan ini saya buat, kalau pakai pesawat sih yang paling jauh sudah pernah sampai Sabang & Papua. Kenapa juga judulnya langsung Touring motor 7, bukannya 6? karena sebelum yang ini saya sudah melakukan perjalanan touring motor dari Depok - Ujung genteng - Bayah (Banten) PP, cuma karena lagi sibuk jadi malas nulis di Blog (halah.. belagu amat ini orang..) jadi saya belum sempet nulisnya, udah agak lupa juga ceritanya, tapi nanti coba di tulis deh.
Touring motor ini menempuh perjalanan dari Depok - melalui Jakarta - melewati Jawa Barat - terus ke Jawa Tengah - lalu Jawa Timur - terus ke Bali - lajut ke Lombok - lalu balik lagi ke Bali - terus ke Jawa Timur - ke Jawa Tengah lagi - lewatin Jawa Barat - masuk Jakarta dikit - Alhamdulillah akhirnya kembali lagi dengan selamat tiba di Depok, intinya sih Depok - Bali - Lombok PP. Total jarak yang di tempuh -/+ 3.000 Km dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam dan menguras tabungan sekitar 2 juta rupiah lebih.
Cari Artikel
Showing posts with label Wisata Backpacking. Show all posts
Showing posts with label Wisata Backpacking. Show all posts
Saturday, January 1, 2011
Friday, January 29, 2010
Touring Motor 5a : Depok - Tegal (16 Januari - 21 Januari 2010)
Mungkin kali ini bisa di bilang single Touring aja (soalnya gak ada planning juga ^.^), bukan touring motor pada umumnya yang pesertanya rombongan, karena yang pergi juga cuma 2 orang aja (Kirun & saya) dan menggunakan 1 motor Honda Karisma 125 D. Jarak tempuh yang di perkirakan juga relative dekat, "hanya" ± 350 km saja (kalau perginya hanya Depok - Tegal - Depok), jadi persiapan kita juga cuma seadanya.
Sunday, January 10, 2010
Touring Motor 4 : Depok - Pangandaran (2 Januari - 5 Januari 2010)
Kali ini aggota touring ada 6 orang (Bulux, Kirun, Dolly, Ozie, Cepot & saya sendiri) dengan menggunakan 5 motor (Yamaha Jupiter MX, Honda Supra 125 D, Suzuki Satria F 150, Honda Vario Techno & Honda Supra Fit). Perjalanan Depok-Pangandaran-Depok via Bandung menempuh jarak ± 850 km, melewati trek turun-naik yang berliku dengan kondisi jalan yang umumnya baik. Supra Fit yang saya kendarai menghabiskan bensin Premium & Pertamax sekitar Rp.73.500,- atau ± 16 liter dengan kecepatan rata-rata motor 60 km/jam, bisa dibilang adalah pengeluaran bensin yang paling irit di banding motor yang lainnya.
Saturday, December 26, 2009
Touring Motor 3 : Depok - Ciwidey (19 Desember - 20 Desember 2009)
Berangkat
Kami berangkat dari Depok sekitar jam 1.30 melewati rute Depok-Cibubur-Cileungsi-Jonggol-Cariu-Pasirkalong-Ciranjang-Padalarang-Cimahi-Soreang-Ciwidey, sampai di Ciwidey ± jam 21.30, jadi perjalanan + istirahat memakan waktu sekitar 8 jam. Sesampainya di Ciwidey malem-malem kita langsung cari penginapan dan akhirnya kita sewa 1 rumah penduduk setempat (3 kamar, garasi & ada tv-nya juga) dengan harga Rp.350.000,-/malam, kita sewa rumah ini karena keluarganya Bulux (4 orang) dari Purwakarta mau nyusul ke Ciwidey dengan mobil, jadi 1 rumah itu diisi dengan 9 orang.Pagi harinya setelah sarapan (sekitar jam 8 pagi) kami langsung meluncur ke tempat-tempat wisata di daerah Ciwidey.
Tuesday, December 15, 2009
Tips Touring Motor yang (Mudah-mudahan) Aman
Touring motor adalah kegiatan mengendarai kendaraan sepeda motor secara bersama-sama atau berkelompok untuk mencapai tujuan tempat tertentu.Dalam touring biasanya ada road captain (pemimpin), yang bertanggung jawab terhadap anggota touring secara keseluruhan. Road captain harus bisa mengendalikan anggota touring lain, mempunyai kapabilitas mengenal jalan / rute yang terbaik, menentukan kapan harus berhenti untuk mengisi bensin dan kapan harus melanjutkan perjalanan. Road captain berada paling depan, tidak ada satu anggota pun yang boleh mendahului road captain. Dalam menjalankan tugasnya road captain dibantu oleh satu atau beberapa sweeper yang tugasnya memastikan tidak ada anggota touring yang tertinggal.
Tips Ber-wisata ala Backpackers
Pengin liburan atau berwisata ketempat-tempat yang diinginkan tapi budget cekak bukan berarti mengubur niat Anda untuk bisa membuka wawasan melalui traveling. Ada cara hemat agar Anda bisa menambah pengalaman tanpa terlalu (tapi masih tetep) menguras isi kantong Anda. Ya benar! Salah satunya bakcpacking saja.Namun begitu, tidak lantas seorang backpacker (sebutan untuk seorang wisatawan yang senang melakukan perjalanan ke berbagai tempat dengan tas ransel dipunggungnya) di awal-awal petualangannya mengunjungi beberapa tempat di negaranya atau di luar negeri, sukses dalam perjalanannya jika sebelum keberangkatannya tidak dilengkapi dengan berbagai persiapan yang dibutuhkan selama melakukan perjalanannya.
Rencana Touring / Backpacking ke Kawah Putih Ciwidey dan sekitarnya

Minggu depan berencana pergi ke Bandung Selatan, tepatnya ke Ciwidey mau lihat Kawah Putih yang katanya seperti surga yang tercecer. Rencananya sih mau touring aja pake motor sama temen-temen dari Depok, kalo lagi males naik motor alternatif lainnya ya naik kendaraan umum ^.^! Udah browsing di Google buat nyari Rute & hasilnya adalah... Voila...!!!
Sunday, October 4, 2009
Touring Motor 2 : Depok - Bromo (22 September - 28 September 2009)
Mungkin tidak terlalu spesial apabila kami berkunjung kesana dengan cara yang biasa karena sudah banyak orang yang pergi kesana dan menikmati indahnya panorama alam disana, tapi lain lagi ceritanya kalau kami menempuh perjalanan ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dengan menggunakan sepeda motor dari Depok - Jabodetabek.
Saturday, September 19, 2009
Kawasan Kota Tua Jakarta Sampai Sunda Kelapa

Yang jauh di kejar-kejar, yang deket malah di cuekin. Hehehe... suka travelling jauh-jauh sampai ke Jogja, Bali, Aceh bahkan Papua, yang di Jakarta malah dicuekin, padahal view & suasananya lumayan bagus juga. Kali ini saya menyempatkan diri untuk berwisata ke Kawasan kota tua Jakarta sampai Pelabuhan Sunda Kelapa.
Lokasinya gak terlalu jauh, dari Depok (kebetulan aye tinggal di Depok) cukup naik kereta saja sampai mentok di Stasiun Kota (Beos), kurang lebih makan waktu sekitar 1 jam. Kalau mau naik bus kota atau Busway juga bisa sih, cuman males macetnya. Lokasi kawasan Kota Tua dekat dari Stasiun Kota (Beos) & Halte Busway Kota, jalan kaki kira-kira 200 meter lah. Kalau pelabuhan Sunda Kelapa sih agak jauh, kalau gak kuat jalan kaki atau gak tau arah mending naik ojek atau taksi, tapi kalau saya lebih milih jalan kaki aja biar sekalian capeknya tapi puas bisa transit di mana aja yang ada spot bagusnya.
Lokasinya gak terlalu jauh, dari Depok (kebetulan aye tinggal di Depok) cukup naik kereta saja sampai mentok di Stasiun Kota (Beos), kurang lebih makan waktu sekitar 1 jam. Kalau mau naik bus kota atau Busway juga bisa sih, cuman males macetnya. Lokasi kawasan Kota Tua dekat dari Stasiun Kota (Beos) & Halte Busway Kota, jalan kaki kira-kira 200 meter lah. Kalau pelabuhan Sunda Kelapa sih agak jauh, kalau gak kuat jalan kaki atau gak tau arah mending naik ojek atau taksi, tapi kalau saya lebih milih jalan kaki aja biar sekalian capeknya tapi puas bisa transit di mana aja yang ada spot bagusnya.
Backpacking ke Bali, Bali, dan Bali...

Setelah bertahun-tahun akhirnya bisa juga backpacking-an ke Bali, buat menghilangkan suntuk sejenak setelah setengah tahunan kerja di LNG Tangguh (Papua). Seperti halnya Jogja, Bali bisa dibilang tujuan wisata wajib para travellers atau backpackers Indonesia, ibarat kata kalau suka travelling tapi belum pernah ke Bali kayaknya masih ada yang kurang gitu hehehe...
Dengan berbekal satu gembol tas (sama duit juga tentunya) dan selembar tiket Adam Air (tahun 2007 masih ada, sekarang udah bangkrut) yang paling murah seharga 300-ribu rupiahan, saya bersama dua teman saya berangkat menuju Pulau Bali dengan pede-nya, walaupun dengan modal yang pas-pasan ala bacpackers.
Dengan berbekal satu gembol tas (sama duit juga tentunya) dan selembar tiket Adam Air (tahun 2007 masih ada, sekarang udah bangkrut) yang paling murah seharga 300-ribu rupiahan, saya bersama dua teman saya berangkat menuju Pulau Bali dengan pede-nya, walaupun dengan modal yang pas-pasan ala bacpackers.
Merasakan Kerja di Tanah Papua (Tangguh LNG)
Setelah Aceh, saya punya keinginan untuk nyicipin kerja di daerah ujung Indonesia satu lagi, yaitu bagian timur Indonesia. Tapi ya walau bukan yang paling ujung akhirnya kira-kira awal tahun 2007 dapat kesempatan juga buat kerja di daerah Papua, tepatnya di pembangunan LNG Tangguh di daerah Teluk Bintuni. Kabupaten Teluk Bintuni adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Bintuni. Kabupaten Teluk Bintuni terletak di bagian leher "kepala burung". Ia menghadap ke Laut Seram di lepas pantai barat Provinsi Papua Barat. Sebelum April 2003, wilayah ini merupakan bagian Kabupaten Manokwari.
Perut bumi Teluk Bintuni terbilang kaya akan bahan tambang dan galian. Hampir seluruh kawasan mengandung gas alam cair (LNG). Cadangan yang dimiliki diperkirakan 23,7 triliun kaki kubik (TCF). Kandungan minyak bumi di kabupaten ini diperkirakan 45 juta ton. Sentra pemanfaatan LNG di Kampung Tanah Merah, Distrik Babo, sedangkan konsentrasi pengambilan minyak bumi di Distrik Muskona Selatan.
Perut bumi Teluk Bintuni terbilang kaya akan bahan tambang dan galian. Hampir seluruh kawasan mengandung gas alam cair (LNG). Cadangan yang dimiliki diperkirakan 23,7 triliun kaki kubik (TCF). Kandungan minyak bumi di kabupaten ini diperkirakan 45 juta ton. Sentra pemanfaatan LNG di Kampung Tanah Merah, Distrik Babo, sedangkan konsentrasi pengambilan minyak bumi di Distrik Muskona Selatan.
Friday, September 18, 2009
Bekerja Sekaligus Liburan di Banda Aceh (NAD)

Pada awal tahun 2006 atau sekitar setahun setelah peristiwa Tsunami Aceh 26 Desember 2004 saya bersama 2 teman saya mendapat kesempatan untuk bekerja di kota Banda Aceh (NAD) selama setahun. Saya besar & tinggal di Depok, Jawa Barat dan ini adalah pertama kalinya saya pergi keluar pulau Jawa (pertama kalinya juga naik pesawat hehehe...). Untuk mencari sesuap nasi, sedikit rupiah, sebongkah berlian & beberapa lembar pengalaman ^-^!. Kalau kata orang "Sambil menyelam masak air" jadi sambil kerja ya sekalian travelling & wisata kuliner juga.
Kota Banda Aceh adalah salah satu kota sekaligus ibukota Aceh, Indonesia. Dahulu kota ini bernama Kutaraja, kemudian sejak 28 Desember 1962 namanya diganti menjadi Banda Aceh. Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat segala kegiatan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Pada tanggal 26 Desember 2004, kota ini dilanda gelombang pasang tsunami yang menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini.
Kota Banda Aceh adalah salah satu kota sekaligus ibukota Aceh, Indonesia. Dahulu kota ini bernama Kutaraja, kemudian sejak 28 Desember 1962 namanya diganti menjadi Banda Aceh. Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat segala kegiatan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Pada tanggal 26 Desember 2004, kota ini dilanda gelombang pasang tsunami yang menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini.
Menjelajah Sabang

Pada tahun 2006 saya bersama teman-teman senasib dari Banda Aceh & Jakarta berkesempatan untuk menjelajahi Kepulauan Sabang, karena keindahan alamnya sampai 3 kali saya berkunjung ke pulau paling barat di Indonesia ini. Sabang sangat cantik & umumnya bergelombang, berbukit-bukit sedang sampai curam. Sedangkan sepanjang pantainya penuh dengan batuan. Kepulauan Sabang terdiri atas 5 (lima) buah pulau yaitu Pulau Weh (121 km2), Pulau Rubiah (0,357 km2), Pulau Seulako (0,055 km2), Pulau Klah (0,186 km2), dan Pulau Rondo (0,650 km2).
Menurut sejarah, P. Weh ditemukan sekitar tahun 301 Sebelum Masehi oleh seorang Ahli Bumi asal Yunani, Ptolomacus, yang tengah berlayar ke arah timur. Di tengah jalan, ia berlabuh di sebuah pulau tak dikenal di mulut selat Malaka. Pulau inilah yang kemudian dikenal sebagai Pulau Weh (Weh dalam bahasa Aceh berarti terpisah). Banyak mitos yang menceritakan bagaimana P.Weh berpisah dengan P. Sumatra.
Menurut sejarah, P. Weh ditemukan sekitar tahun 301 Sebelum Masehi oleh seorang Ahli Bumi asal Yunani, Ptolomacus, yang tengah berlayar ke arah timur. Di tengah jalan, ia berlabuh di sebuah pulau tak dikenal di mulut selat Malaka. Pulau inilah yang kemudian dikenal sebagai Pulau Weh (Weh dalam bahasa Aceh berarti terpisah). Banyak mitos yang menceritakan bagaimana P.Weh berpisah dengan P. Sumatra.
Friday, September 11, 2009
Daerah Istimewa Yogyakarta
Daerah Istimewa Yogyakarta (atau Jogja, Yogya, Yogyakarta, Jogjakarta) dan seringkali disingkat DIY adalah provinsi yang terkenal akan sejarah dan warisan budayanya, sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah di sebelah utara bisa dibilang secara geografis Yogyakarta terletak di pulau Jawa bagian Tengah. Dahulu Jogja merupakan pusat kerajaan Mataram (1575-1640), dan sampai sekarang ada Kraton (Istana) yang masih berfungsi dalam arti yang sesungguhnya. Jogja juga memiliki banyak candi berusia ribuan tahun yang merupakan peninggalan kerajaan-kerajaan besar jaman dahulu, di antaranya adalah Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-9 oleh dinasti Syailendra.
Selain warisan budaya, Jogja memiliki panorama alam yang indah. Hamparan sawah nan hijau dengan Gunung Merapi tampak sebagai latar belakangnya. Pantai-pantai yang masih alami dengan mudah ditemukan di sebelah selatan Jogja. Atmosfir seni juga begitu terasa di Jogja. Malioboro, yang merupakan urat nadi Jogja, dibanjiri barang kerajinan dari segenap penjuru. Musisi jalanan dengan berbagai aksi kreativitasnya pun selalu siap menghibur pengunjung warung-warung lesehan.
Selain warisan budaya, Jogja memiliki panorama alam yang indah. Hamparan sawah nan hijau dengan Gunung Merapi tampak sebagai latar belakangnya. Pantai-pantai yang masih alami dengan mudah ditemukan di sebelah selatan Jogja. Atmosfir seni juga begitu terasa di Jogja. Malioboro, yang merupakan urat nadi Jogja, dibanjiri barang kerajinan dari segenap penjuru. Musisi jalanan dengan berbagai aksi kreativitasnya pun selalu siap menghibur pengunjung warung-warung lesehan.
Wednesday, August 26, 2009
Touring Motor 1 : Jakarta - Madura (08 Agustus - 13 Agustus 2009)
Tour de Java ini adalah salah satu perjalanan tergila yang gak akan bisa gua lupain seumur hidup, cuma berawal dari obrolan ringan 5 hari sebelum berangkat dan dengan persiapan yang seadanya berhubung emang spontan aja hahaha... Awal mau berangkat emang banyak pertanyaan "kenapa harus naik motor sih? kenapa gak naik mobil, Bus, Kereta Api atau Pesawat aja?" dan jawaban gua simpel "udah pernah", berhubung gua emang suka travelling & nyoba hal-hal baru maka terjadilah perjalanan ini.
Perjalanan start dari Bekasi dengan berbekal gembolan 2 tas (isi cuma pakaian, perabotan & duit secukupnya), karena memang cuma 2 orang (Double H alias Hari & Harun ^.^...) mengendarai 1 motor aja (Supra X 125) dengan jarak tempuh ± 2.000 km, kita berangkat dari Bekasi sekitar jam 6 pagi dengan kondisi mata kriep-kriep belum tidur hasil dari begadang main PS semaleman, pokoke maknyuss banget dah, yuk lanjuuut...
Karena rencananya memang mau keliling Jawa (yah masih banyak sih kota yang belum di singgahi tapi lumayanlah...), rute yang kita lewatin juga gak biasa kayak orang mau mudik dari jalur utara (Pantura) ke selatan trus ke utara lagi & selatan lagi hahaha... gak jelas dah. Rute yang kita lewati yaitu:
Perjalanan di jalur Pantura tidak terlalu lancar karena sedang banyak perbaikan jalan untuk persiapan jalur mudik dan viewnya juga cenderung kurang menarik, perjalanan yang paling menegangkan adalah jalur perbukitan sepanjang Cilacap - Ciamis karena selain gelap (maklum lewatnya sudah diatas jam 8 malam) juga sekitarnya banyak melewati hutan & jalannya banyak yang rusak terutama di daerah Wangon - Banjar, jalur hutan jati antara Madiun - Ngawi juga lumayan bikin deg-degan sih tapi berhubung belum terlalu gelap (jam 6an sore) jadi ya gak terlalu serem.
Ya begitulah perjalanan mepet waktu Touring motor Jakarta - Madura yang melelahkan & menyenangkan sekaligus murah buat bensin sama servis aja total gak sampe Rp.300 ribu, kalau waktunya lebih lama pasti lebih enak & santai, awal berangkat dari Bekasi sih mending cuman bawa 2 tas isi pakaian & perabotan, pulangnya dari Jogja ini yang nambah banyak (oleh-oleh ditambah pakaian kotor) depan belakang kanan kiri ^.^! makanya perjalanan jadi agak lebih lama, walaupun begitu tetap fun & puas hehehe... you should try it some times...
Happy Riding... ^o^
Perjalanan start dari Bekasi dengan berbekal gembolan 2 tas (isi cuma pakaian, perabotan & duit secukupnya), karena memang cuma 2 orang (Double H alias Hari & Harun ^.^...) mengendarai 1 motor aja (Supra X 125) dengan jarak tempuh ± 2.000 km, kita berangkat dari Bekasi sekitar jam 6 pagi dengan kondisi mata kriep-kriep belum tidur hasil dari begadang main PS semaleman, pokoke maknyuss banget dah, yuk lanjuuut...
Karena rencananya memang mau keliling Jawa (yah masih banyak sih kota yang belum di singgahi tapi lumayanlah...), rute yang kita lewatin juga gak biasa kayak orang mau mudik dari jalur utara (Pantura) ke selatan trus ke utara lagi & selatan lagi hahaha... gak jelas dah. Rute yang kita lewati yaitu:- Day 1, Bekasi (berangkat jam 7 pagi) - Kerawang - Indramayu - Cirebon - Brebes - Tegal - Bumiayu - Purwokerto - Banyumas - Kebumen - Purworejo - Wates - YOGYAKARTA (tiba jam 9 malam),
- Day 2, Keliling kota YOGYAKARTA (berangkat jam 8 pagi) - Prambanan - Borobudur - Magelang (tiba jam 9 malam),
- Day 3, Magelang (berangkat jam 6 pagi) - Temanggung (nyasar dikit tempat tembak-tembakan) - Ambarawa - Ungaran - SEMARANG (mampir kosan temen) - Demak - Kudus - Rembang - Tuban - Bojonegoro (tiba jam 9 malam),
- Day 4, Bojonegoro (berangkat jam 9 pagi) - Lamongan - Gresik - SURABAYA - Jembatan SuraMadu (5km) - P. MADURA - SURABAYA (keliling sebentar) - Sidoarjo (liat lumpur LAPINDO) - Mojokerto - Jombang - Nganjuk - Madiun - Ngawi - Sragen - Solo - Klaten - YOGYAKARTA (tiba jam 12 malam),
- Day 5, Keliling kota YOGYAKARTA lagi (berangkat jam 10 pagi) - Wates - Purworejo - Kebumen - Cilacap - Ciamis - Tasikmalaya (ketiduran di pom bensin jam 1 pagi),
- Day 6, Tasikmalaya (berangkat dari pom bensin jam 6 pagi) - Garut (nyasar lewat pegunungan) - BANDUNG (servis motor sebentar) - Purwakarta - Kerawang - Bekasi (tiba jam 3 sore, istirahat sebentar) - Depok (akhirnya sampe di Depok jam 10 malem).
Ya begitulah perjalanan mepet waktu Touring motor Jakarta - Madura yang melelahkan & menyenangkan sekaligus murah buat bensin sama servis aja total gak sampe Rp.300 ribu, kalau waktunya lebih lama pasti lebih enak & santai, awal berangkat dari Bekasi sih mending cuman bawa 2 tas isi pakaian & perabotan, pulangnya dari Jogja ini yang nambah banyak (oleh-oleh ditambah pakaian kotor) depan belakang kanan kiri ^.^! makanya perjalanan jadi agak lebih lama, walaupun begitu tetap fun & puas hehehe... you should try it some times...
Happy Riding... ^o^
Tuesday, April 28, 2009
Misery & Joy in Purwakarta
Kenapa judulnya seperti itu? karena perjalanannya lumayan panjang & agak menyiksa (sorry bro, i got to be honest hehehe...), tapi tetap ada bagian yang menyenangkan di sana.Awal perjalanan ke Purwakarta sebenernya mau bantuin temen yang baru aja beli rumah pindahan ke rumah barunya di Ciputat, tapi daripada udah jauh-jauh cuman mindahin barang doang akhirnya kita sepakat (atau cuman gua doank yang pengen ya?... Hehehe bodo ah yang penting hepi) paling nggak kita kesatu tempat wisata disana walaupun sebentar.
Kita start dari rumah temen kita yang satu lagi di daerah Bojong Gede - Bogor (emang gak banyak orang yang tau ini tempat, di cari pake Google Earth aja suka ga ketemu hehehe...), berhubung kita mau pinjem mobilnya buat perjalanan kali ini, dengan amat sangat terpaksa kita menuju daerah antah berantah ini, perjalanan dari Bojong ke Purwakarta memakan waktu kurang lebih sekitar 3 s/d 4 jam tergantung kecepatan mobil & padatnya lalulintas (ini udah lewat Tol loh..).
Sesampainya di Purwakarta kita langsung menuju area wisata Waduk Jatiluhur, harga tiket masuknya gak terlalu tau berhubung dibayarin (kalo gak salah 5 orang sama mobil sekitar Rp.33.000,-an gitu deh, kalo hari biasa mungkin lebih murah kali ya), maksud hati mau masuk ke bendungannya tapi apa daya ternyata selain petugas atau karyawannya gak boleh masuk area bendungan hiks... Ya sudahlah dengan terpaksa kita ke area wisatanya aja.
Di Jatiluhur selain wisata waduk juga ada semacam WaterBoom-nya Purwakarta, yah walaupun gak sebagus Atlantis Ancol & WaterBoom yang aslinya tapi dah lumayanlah, HTM-nya sekitar Rp.25.000,- s/d Rp.27.500,- kalo gak salah liat sih. Kita juga bisa ke Rumah makan di Perkampungan Air yang ada di tengah waduk ini, untuk menuju kesana kita perlu naik boat (kapal / perahu) dan untuk itu kita perlu merogoh kocek sekitar Rp.120.000,-/kapal PP atau Rp.20.000,- s/d Rp.30.000,-/orang PP (kalo udah deal jangan lupa minta no. Hp yang punya kapal buat balik lagi ketempat semula).
Menu makanan di rumah makan Perkampungan air ini kebanyakan ikan tapi nasi goreng & mie goreng juga ada sih walaupun agak lama pelayanannya (asli lama betul tuh makanan keluarnya, jadi harus agak sabar), ikan yang di jual disini harganya per-ons kira-kira sekitar Rp.7.500,-/ons (satu ikan kira-kira 7 - 9 ons) jadi mesti di kira-kira deh mau pesen berapa ikan biar bisa kenyang, setelah pesen ikan langsung di tangkep di tempat penangkarannya jadi dijamin fresh from the oven hehehe... Habis makan dan istirahat sebentar kita minta dijemput kapalnya buat balik ke tempat semula, naik perahu paling depan biar bisa photo-photo narsis diri dengan view pemandangan disana.- Mobil gak bisa ngebut berhubung memang sudah tidak memungkinkan untuk itu,
- Kondisi dalam mobil sudah penuh sesak dengan barang-barang pindahan ditambah 5 orang (agak lumayan ketekuk-tekuk nih badan dempet-dempetan sama barang),
- Lampu depan mobil tiba-tiba mati, jadi mau gak mau kita harus berhenti dulu di beberapa bengkel terdekat buat benerin lampu yang ternyata memakan waktu lumayan lama (mana sepanjang jalan banyak Jablay yang godain lagi hahaha...),
- Turun juga dah tu hujan menambah berkah dan derita bersamaan hiks.. hiks..
- Di Tol drivernya ngantuk berat sampe ketiduran bawa mobilnya, dengan terpaksa kita mampir lagi di Rest area Tol buat istirahat.
Tuesday, April 21, 2009
PLTP Dieng (PT. Geo Dipa Energi)
Setelah dari sumur sumber panas bumi ini kita bergerak ke tempat yang lain sekalian cari kendaraan turun dari Dieng menuju Wonosobo tapi mampir dulu di Agrowisata Perkebunan Teh Tambi & Menara Pandang.
Info dari berbagai sumber
Telaga Warna, DPT & Komplek Goa (Dieng)
Setelah dari Gunung Cikunir/Sikunir dan melihat area candi & Kawah Sikidang kita menuju ke tempat wisata selanjutnya yaitu Telaga Warna, Dieng Plateau Theatre & Komplek Goa, untuk masuk ke dalam area Telaga Warna kita perlu beli tiket masuk Rp.5.000,- sudah termasuk area Komplek Goa, untuk masuk ke Dieng Pateau Theatre (DPT) kita harus membayar tiket masuk lagi sebesar Rp.3.000,-.
Telaga Warna
Kalau cuaca baik dan matahari sudah agak tinggi kita bisa melihat jelas perbedaan beberapa warna dari Telaga Warna tersebut, variasi warna tergantung dari cuaca, waktu dan tempat melihatnya, untuk mendapatkan view yang lebih baik sebenarnya kita bisa naik bukit yang ada disebelahnya, hiking lagi agak capek sih tapi kita ga perlu bayar tiket masuk buat ngeliatnya dan selain gratis yang jelas view-nya lebih yahud, dijalan naik/turun bukit ini juga ada pintu masuk ke telaga dari samping yang gak perlu bayar alias gratis kalau pengunjungnya lagi banyak sih gak ketahuan tapi kalau lagi sedikit bisa keliatan jelas banget, kan tengsin juga pas mau keluar di tagih bayar tiket hehehe...
Menurut masyarakat setempat, ada suatu kisah yang menyebabkan warna danau alias telaga itu berwarna-warni. Konon, dahulu ada cincin milik bangsawan setempat yang bertuah namun terjatuh ke dasar telaga, tapi kalau dari kajian ilmiah telaga ini merupakan kawah gunung berapi yang mengandung belerang. Akibatnya, bila air telaga terkena sinar matahari akan dibiaskan menjadi warna-warni yang indah.
Tidak jauh dari situ ada telaga yang berukuran lebih kecil. Telaga Pengilon, namanya. Airnya yang jernih seperti cermin itulah yang membuat penduduk setempat memberi nama Telaga Pengilon. Lagi-lagi ada mitos penduduk menyebutkan bila danau ini bisa untuk mengetahui isi hati manusia. Bila ia terlihat cantik atau tampan ketika memandang air telaga ini, maka hatinya baik, bila sebaliknya maka ia termasuk orang berhati kurang baik, yah boleh percaya boleh nggak sih namanya juga mitos.
Komplek Goa
Tidak jauh dari Telaga Warna & Telaga Pegilon ada beberapa goa alam yang memiliki legenda dan suasana yang mistis, setidaknya ada tiga goa disini yaitu Goa Semar, Goa Sumur & Goa Jaran.

Tidak seperti DPT yang bikin kisruh di Pemilu kali ini (Daftar Pemilih Tetap), DPT yang satu ini akan menambah pengetahuan anda tentang Dieng Plateau.
Dieng Plateau Theater adalah sarana wisata berupa bioskop yang materinya berupa informasi peristiwa alam Dieng dan apa saja yang ada di wilayah Dieng, seperti peristiwa Sinila tahun 1979 yang meminta banyak korban dari penduduk Dieng. Sarana ini digagas dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah kala itu, Bapak H. Mardiyanto. Terletak di lereng bukit Sikendil, kira-kira 1.5 km dari pertigaan masuk Dieng, 250 meter dari Telaga Warna. Berada pada ketinggian 2.100 m di atas permukaan laut.
Kapasitas tempat duduk adalah 100 kursi. Di sekitarnya dilengkapi dengan taman dan tempat untuk bersantai. Dari sana tampak rangkaian pegunungan seperti: Gunung Prahu, Gunung Juranggrawah, Gunung Pangonan, Gunung Sipandu, Gunung Nagasari, Gunung pangamun-amun, dan Gunung Gajah Mungkur.
Sarana yang menelan biaya investasi sebesar Rp.2 milyar lebih ini cocok sekali bagi anda yang ingin mengetahui peristiwa alam di Dieng dan Budaya masyarakat sekitarnya. Objek yang berada di kawasan Dieng itu nantinya diharapkan akan memberikan manfaat bagi dua kabupaten yang berbatasan, yakni Wonosono dan Banjarnegara. Harapan itu tak berlebihan setelah melihat sukses paska dibangunnya Ketep Plateau Theater yang manfaatnya telah dirasakan Kabupaten Magelang dan Boyolali.
Sebagian info DPT diambil dari situs wonosobokab.go.id
Telaga Warna
Kalau cuaca baik dan matahari sudah agak tinggi kita bisa melihat jelas perbedaan beberapa warna dari Telaga Warna tersebut, variasi warna tergantung dari cuaca, waktu dan tempat melihatnya, untuk mendapatkan view yang lebih baik sebenarnya kita bisa naik bukit yang ada disebelahnya, hiking lagi agak capek sih tapi kita ga perlu bayar tiket masuk buat ngeliatnya dan selain gratis yang jelas view-nya lebih yahud, dijalan naik/turun bukit ini juga ada pintu masuk ke telaga dari samping yang gak perlu bayar alias gratis kalau pengunjungnya lagi banyak sih gak ketahuan tapi kalau lagi sedikit bisa keliatan jelas banget, kan tengsin juga pas mau keluar di tagih bayar tiket hehehe...
Komplek Goa
Tidak jauh dari Telaga Warna & Telaga Pegilon ada beberapa goa alam yang memiliki legenda dan suasana yang mistis, setidaknya ada tiga goa disini yaitu Goa Semar, Goa Sumur & Goa Jaran.
- Goa Semar, Pengunjung bisa langsung mengetahui goa itu karena ada arca Semar di depan mulut goa-nya. Semar adalah salah satu punakawan yang dianggap paling bijaksana. Dinamai Goa Semar karena penduduk setempat percaya bila goa ini dijaga oleh Eyang Semar. Banyak orang bersemedi di goa ini, laki atau perempuan dengan tujuan menginginkan keselamatan.
- Goa Sumur, Tidak jauh dari Goa Semar ada Goa Sumur, di depannya ada arca wanita dengan membawa kendi. Goa ini memang memiliki kolam kecil yang airnya konon katanya bertuah. Banyak yang percaya air di Goa Sumur ini bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat kulit jadi lebih cantik. Adapula yang menggunakannya untuk upacara suci seperti umat Hindu dari Bali. Karena pintu goa biasanya dikunci untuk menjaga kesuciannya maka untuk masuk kedalam goa perlu minta tolong juru kunci (Kuncen) untuk membukanya (sama halnya dengan Goa Semar), Juru kunci tinggal tidak jauh dari area Goa & Telaga Warna.
- Goa Jaran, dinamakan Goa Jaran atau yang bisa diartikan Goa Kuda karena dulu katanya adalah tempat pertapaan Resi Kendaliseto, suatu saat ketika hujan deras, ada seekor kuda yang berteduh di dalamnya. Anehnya ketika kuda itu keluar dari lubang goa keesokan harinya kuda itu telah berbadan dua alias hamil. Sebagian masyarakat percaya bila gua ini bisa digunakan untuk semedi para wanita yang sulit mendapatkan keturunan. Tidak seperti 2 goa lainnya Goa Jaran bisa dimasuki tanpa juru kunci tapi tempatnya sempit sekali, biasanya orang yang bersemedi duduk di pendopo depan mulut goa (sekali lagi katanya sih begitu).
Tidak seperti DPT yang bikin kisruh di Pemilu kali ini (Daftar Pemilih Tetap), DPT yang satu ini akan menambah pengetahuan anda tentang Dieng Plateau.Dieng Plateau Theater adalah sarana wisata berupa bioskop yang materinya berupa informasi peristiwa alam Dieng dan apa saja yang ada di wilayah Dieng, seperti peristiwa Sinila tahun 1979 yang meminta banyak korban dari penduduk Dieng. Sarana ini digagas dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah kala itu, Bapak H. Mardiyanto. Terletak di lereng bukit Sikendil, kira-kira 1.5 km dari pertigaan masuk Dieng, 250 meter dari Telaga Warna. Berada pada ketinggian 2.100 m di atas permukaan laut.
Kapasitas tempat duduk adalah 100 kursi. Di sekitarnya dilengkapi dengan taman dan tempat untuk bersantai. Dari sana tampak rangkaian pegunungan seperti: Gunung Prahu, Gunung Juranggrawah, Gunung Pangonan, Gunung Sipandu, Gunung Nagasari, Gunung pangamun-amun, dan Gunung Gajah Mungkur.
Sarana yang menelan biaya investasi sebesar Rp.2 milyar lebih ini cocok sekali bagi anda yang ingin mengetahui peristiwa alam di Dieng dan Budaya masyarakat sekitarnya. Objek yang berada di kawasan Dieng itu nantinya diharapkan akan memberikan manfaat bagi dua kabupaten yang berbatasan, yakni Wonosono dan Banjarnegara. Harapan itu tak berlebihan setelah melihat sukses paska dibangunnya Ketep Plateau Theater yang manfaatnya telah dirasakan Kabupaten Magelang dan Boyolali.
Sebagian info DPT diambil dari situs wonosobokab.go.id
Komplek Candi & Kawah Sikidang (Dieng)
Dari Puncak Cikunir perjalanan bisa dilanjutkan ke Telaga Warna (satu area dengan Komplek Goa) atau Kawah Sikidang (satu area dengan Komplek Candi), kali ini kita coba ke area komplek Candi & Kawah Sikidang dahulu, tempat wisata ini sudah masuk daerah Banjarnegara & untuk dapat memasukinya kita harus membeli tiket masuk seharga Rp.6.000,-/0rang (guide tidak perlu beli tiket).
Letak pintu masuknya cukup dekat dari penginapan ± sekitar 500 meter, kita mulai dari Komplek Candi Arjuna sampai ke Kawah Sikidang, kalau anda hanya ingin melihat Kawah Sikidang saja bisa langsung menuju kesana (gak perlu bayar tiket, tempat beli tiket hanya di Komplek Candi saja) letaknya cukup jauh dari penginapan apabila di tempuh dengan jalan kaki tetapi kalau dari Puncak Cikunir cukup dekat (bisa motong jalan) jadi sekalian jalan ke Telaga Warna atau pulang ke peginapan (minta diarahkan guide-nya saja).
Komplek Candi di Dieng
Di Dataran Tinggi Dieng dapat dijumpai perkomplekan candi yang banyak jumlahnya. Penamaan candi diambil dari nama wayang yang bersumber dari cerita Baratayuda seperti Candi Puntadewa, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Gatotkaca dan sebagainya.
Latak bangunan terpencar di beberapa tempat, sebagian ada yang mengelompok dan sebagian lain berdiri sendiri. Kelompok candi yang mengelompok yaitu komplek Percandian Arjuna yang berderet dari utara ke selatan, mulai dari Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra. Di depan Candi Arjuna terdapat Candi Semar.

Bangunan candi yang berdiri sendiri misalnya Candi Bima, Candi Gatotkaca, Candi Dwarawatik, Candi Parikesit, Candi Sentyaki, Candi Ontorejo, Candi Samba, Candi Nangkula, Candi Sadewa, Candi Gareng, Candi Petruk dan Candi Bagong.
Di antara keseluruhan candi di Komplek Percandian Dieng tersebut, terdapat tiga candi yang kini keadaannya masih relatif utuh yaitu Candi Bima, Candi Arjuna dan Candi Gatotkaca sedangkan yang lainnya dalam kondisi yang mengkhawatirkan bahkan sudah nyaris rata dengan tanah, kalau anda ingin tahu lebih jauh tentang candi-candi tersebut bisa langsung ke Museum yang ada didekat area candi di dekatnya juga ada cafe atau restoran untuk makan & beristirahat.



Kawah Sikidang
Setelah dari area komplek candi kita bergerak ke area kawah Sikidang, pintu masuknya dekat Candi Bima, karena kita datangnya pas hari kerja suasananya sepi banget (waktu itu cuma ada kelompok kita aja) jadi berasa nyaman dan fotonya bersih gak banyak orang lalu-lalang, didekat pintu masuk ada tempat area jualan buat pedagang makanan atau souvenir (yah seperti tempat wisata lainnya) katanya disini juga ada yang jual bunga Edelweis yang udah lumayan susah didapat (sudah gak boleh dipetik & dibawa orang harusnya sih) tapi kita gak nemu karena gak ada yang dagang satu juga hehehe...

Dilokasi ini bau belerangnya sangat menyengat & suhunya agak lumayan hangat, dikejauhan kita bisa lihat sumur geothermal tua yang masih beroperasi, energi panas bumi ini memang dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik di daerah Dieng ini kita banyak menjumpai pipa-pipa & sumur sumber panas bumi dimana-mana, kawah di Sikidang adalah yang terbesar di Dieng & katanya 2 bulan yang lalu area dekat kawah pernah meledak dan membentuk lembah serta gundukan tanah baru, kita sempet foto-foto dari atas gundukan tanah baru tersebut, setelah puas melihat-lihat & foto-foto disini tujuan selanjutnya kita ke Telaga Warna & Komplek Goa...

Sebagian info pada Komplek Candi dikutip dari situs Arkeologi.web.id
Letak pintu masuknya cukup dekat dari penginapan ± sekitar 500 meter, kita mulai dari Komplek Candi Arjuna sampai ke Kawah Sikidang, kalau anda hanya ingin melihat Kawah Sikidang saja bisa langsung menuju kesana (gak perlu bayar tiket, tempat beli tiket hanya di Komplek Candi saja) letaknya cukup jauh dari penginapan apabila di tempuh dengan jalan kaki tetapi kalau dari Puncak Cikunir cukup dekat (bisa motong jalan) jadi sekalian jalan ke Telaga Warna atau pulang ke peginapan (minta diarahkan guide-nya saja).
Komplek Candi di Dieng
Di Dataran Tinggi Dieng dapat dijumpai perkomplekan candi yang banyak jumlahnya. Penamaan candi diambil dari nama wayang yang bersumber dari cerita Baratayuda seperti Candi Puntadewa, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Gatotkaca dan sebagainya.
Latak bangunan terpencar di beberapa tempat, sebagian ada yang mengelompok dan sebagian lain berdiri sendiri. Kelompok candi yang mengelompok yaitu komplek Percandian Arjuna yang berderet dari utara ke selatan, mulai dari Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra. Di depan Candi Arjuna terdapat Candi Semar.

Bangunan candi yang berdiri sendiri misalnya Candi Bima, Candi Gatotkaca, Candi Dwarawatik, Candi Parikesit, Candi Sentyaki, Candi Ontorejo, Candi Samba, Candi Nangkula, Candi Sadewa, Candi Gareng, Candi Petruk dan Candi Bagong.
Di antara keseluruhan candi di Komplek Percandian Dieng tersebut, terdapat tiga candi yang kini keadaannya masih relatif utuh yaitu Candi Bima, Candi Arjuna dan Candi Gatotkaca sedangkan yang lainnya dalam kondisi yang mengkhawatirkan bahkan sudah nyaris rata dengan tanah, kalau anda ingin tahu lebih jauh tentang candi-candi tersebut bisa langsung ke Museum yang ada didekat area candi di dekatnya juga ada cafe atau restoran untuk makan & beristirahat.
- Candi Bima, Candi yang berukuran 4,93 x 4,34 m dianggap memiliki ciri arsitektur yang berbeda dengan candi lainnya di Indonesia. Candi Bima memiliki bentuk atap yang merupakan perpaduan gaya arsitektur India Utara dan India Selatan. Gaya India Utara tampak pada atap yang berbentuk menara yang meninggi (Sikhara). Sedangkan gaya India Selatan tampak pada bentuk atapnya yang bertingkat dan batur bangunan yang terdiri atas pelipit-pelipit mendatar. Sekain itu adanya menara-menara sudut dan relung-relung bentuk tapal kuda dengan hiasan kudu. Hiasan kudu pada Candi Bima ini berwujud manusia setengah badan yang melongok keluar dari bilik jendela.

- Candi Arjuna, Candi yang berukuran 6 x 6 m dan menghadap ke arah barat. Termasuk dalam kelompok candi Arjuna yaitu Candi Srikandi dan Candi Puntadewa. Keunikan bangunan kelompok Arjuna terletak pada bagian tubuh candi yang berbentuk Keben. Pada pintu masuk dan relung-relungnya dihiasi kala makara. Atap candi berbentuk seperti ada pembagian horisontal yang terdiri atas bentuk piramida-piramida jenjang dengan triap sidutnya terdapat menara-menara kecil. Menara kecil tersebut yang memiliki kemiripan dengan gaya arsitektur India Selatan. Ditemukannya prasasti berangka tahun 731 Caka (809 M) di dekat Candi Arjuna dapat menjadi petunjuk pembangunan candi sekitar awal abad IX M.

- Candi Gatotkaca, Bangunan candi berdenah persegi empat dan terdapat tonjolan pada bagian tengah keempat sisinya. Hiasan ornamental terlihat sangat menonjol dan didominasi oleh pelipit-pelipit halus. Arah hadap candi ke barat disertai pintu masuk bertangga dengan pipi tangga bersayap dan berukir gelung. Terdapat hiasan kala tanpa rahang bawah di atas relung. Bagian atap candi berhiaskan antefik (simbar) dan kepala singa pada setiap sudutnya. Terdapat juga menara-menara kecil di bagian atap paling bawah. Bentuk profil menara-menara tersebut hampir sama dengan profil candi. Atap puncak (mahkota) berbentuk silinder.

Setelah dari area komplek candi kita bergerak ke area kawah Sikidang, pintu masuknya dekat Candi Bima, karena kita datangnya pas hari kerja suasananya sepi banget (waktu itu cuma ada kelompok kita aja) jadi berasa nyaman dan fotonya bersih gak banyak orang lalu-lalang, didekat pintu masuk ada tempat area jualan buat pedagang makanan atau souvenir (yah seperti tempat wisata lainnya) katanya disini juga ada yang jual bunga Edelweis yang udah lumayan susah didapat (sudah gak boleh dipetik & dibawa orang harusnya sih) tapi kita gak nemu karena gak ada yang dagang satu juga hehehe...

Dilokasi ini bau belerangnya sangat menyengat & suhunya agak lumayan hangat, dikejauhan kita bisa lihat sumur geothermal tua yang masih beroperasi, energi panas bumi ini memang dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik di daerah Dieng ini kita banyak menjumpai pipa-pipa & sumur sumber panas bumi dimana-mana, kawah di Sikidang adalah yang terbesar di Dieng & katanya 2 bulan yang lalu area dekat kawah pernah meledak dan membentuk lembah serta gundukan tanah baru, kita sempet foto-foto dari atas gundukan tanah baru tersebut, setelah puas melihat-lihat & foto-foto disini tujuan selanjutnya kita ke Telaga Warna & Komplek Goa...

Sebagian info pada Komplek Candi dikutip dari situs Arkeologi.web.id
Monday, April 20, 2009
Sunrise di Gunung Cikunir (Dieng)

Untuk melihat sunrise di Gunung Cikunir / Sikunir yang katanya memiliki ketinggian ±2.500m dari permukaan laut perlu ada sedikit pengorbanan, yaitu:
- Tampang kucel gak mandi, karena dingin bener katanya bisa sampai 6°C, air disana berasa air es dan napas aja udah berasap embun, apalagi kalau naik motor bwuaahh... jari ma kuping ente siap-siap beku dah,
- Bangun pagi (salah satu yang gua benci hahaha...), sekitar jam 3.30 pagi kalo mau trekking jalan kaki atau jam 4.30 pagi kalau mau naik motor dilanjutin jalan kaki,
- Jalan trekking yang lumayan jauh, agak licin & menanjak (harus hati-hati, sebaiknya pakai sepatu trekking & jangan lupa bawa air minum!!!),
- Sholat subuh bisa kelewat kalau ambil yang jalan kaki, jadi sebaiknya wudhu dulu & jangan lupa pakai celana panjang yang bersih dan bawa sejadah, siap-siap buat sholat di atas.
Tapi semua itu bakal terbayar lunas begitu kita sampai dipuncak dengan pemandangan yang sangat indah dan udara yang sejuk (lumayan buat bersihin paru-paru dari udara Jakarta) lebih enak lagi sih sambil ngopi atau ngeteh anget, kalau kita lagi beruntung dan cuaca lagi cerah selain kita bisa dapet sunrise yang bagus, kita juga bisa lihat puncak Gunung Merapi (2.914m) & Gunung Sindoro (2.151m) dari sini, sampai ada bule yang bela-belain bolak-balik naik buat dapetin sunrise yang mantap, tapi tenang aja walaupun cuacanya lagi gak begitu baik kita masih bisa lihat pemandangan yang bagus kok (gua sendiri agak kurang beruntung yah walaupun gak ujan sih tapi mataharinya ketutup kabut).
Subscribe to:
Posts (Atom)